Minggu, 23 November 2025

Hidup tanpa HP

📖 Bacalah, sungguh luar biasa!

Di sebuah acara kumpul keluarga, seorang pemuda bertanya kepada orang tua, paman, bibi, dan kakek-neneknya:

"Bagaimana kalian semua hidup dulu?

— Tidak ada televisi
— Tidak ada Wi-Fi
— Tidak ada teknologi
— Tidak ada internet
— Tidak ada komputer
— Tidak ada drone
— Tidak ada Bitcoin
— Tidak ada ponsel
— Tidak ada Facebook
— Tidak ada Twitter
— Tidak ada YouTube
— Tidak ada WhatsApp
— Tidak ada Messenger
— Tidak ada Instagram."

 Pada titik ini, sang kakek angkat bicara, menjawab di depan seluruh keluarga:

"Cucuku tersayang, lihatlah bagaimana generasimu hidup sekarang —

— Tak ada doa
— Tak ada rasa hormat
— Tak ada nilai-nilai
— Tak ada individualitas
— Tak ada tanggung jawab
— Tak ada pengembangan diri
— Tak ada karakter
— Tak ada cita-cita
— Tak ada cinta diri
— Tak ada kemanusiaan
— Tak ada kerendahan hati
— Tak ada kebajikan
— Tak ada kehormatan
— Tak ada tujuan
— Tak ada 'semangat' yang tak terlukiskan itu
— Tak ada hakikat
— Tak ada arah

"Ada kekurangan identitas, karena banyak orang bahkan tak bisa membedakan antara laki-laki dan perempuan."

"Kami, yang lahir antara tahun 1920 dan 1975, adalah generasi yang diberkati, dan hidup kami adalah bukti terbaiknya: Kami mengerjakan PR sepulang sekolah sebelum bermain!"

"Kami bermain dengan teman-teman di dunia nyata, bukan teman virtual di dunia maya."

 "Kami membuat mainan sendiri dan memainkannya."

"Orangtua kami tidak kaya,"

tetapi mereka memberi kami kasih sayang dan pendidikan, bukan uang dan harta benda.

"Kami tidak pernah memiliki ponsel, laptop, DVD, PlayStation, Xbox, konsol game video, atau internet, tetapi kami memiliki sahabat sejati."

"Kerabat kami tinggal di dekat sini, jadi kami sering berkumpul dan menikmati waktu bersama keluarga.

"Foto kami mungkin hitam putih, tetapi kenangan itulah yang paling berkesan."

"Kami adalah generasi yang unik, penuh pengertian dan toleran, karena kami adalah generasi terakhir yang mendengarkan orang tua kami dan generasi pertama yang mendengarkan anak-anak kami."

"Kami adalah edisi terbatas!"

Hargai masa lalu, belajarlah darinya.

"Izinkan saya membagikan kutipan ini: "Orang-Orang Tertua"

Kami lahir di tahun 40-an, 50-an, dan 60-an;

Kami tumbuh di tahun 50-an, 60-an, dan 70-an;
Kita belajar di tahun 60-an, 70-an, dan 80-an;
Kita jatuh cinta di tahun 70-an, 80-an, dan 90-an;
Kita menikah dan menjelajahi dunia di tahun 70-an, 80-an, dan 90-an;
Kita berjuang di tahun 80-an dan 90-an;
Kita stabil di tahun 2000-an;
Kita matang di tahun 2010-an;
Dan sekarang, kita terus bergerak menuju tahun 2025.

“Kita telah hidup melalui delapan dekade yang berbeda, dua abad yang berbeda, dan dua milenium yang berbeda.”

“Kita telah beralih dari telepon yang membutuhkan operator ke panggilan video global masa kini; dari piringan hitam ke musik daring; dari surat tulisan tangan ke email dan WhatsApp.”

“Dari mendengarkan siaran olahraga di radio ke televisi hitam-putih, lalu ke televisi definisi tinggi; dari toko penyewaan video ke Netflix.”

 “Kita telah menyaksikan komputer, kartu punch, dan disket paling awal, dan sekarang kita dapat mengendalikan ratusan gigabita data di ponsel dan tablet.” "Data."

"Kita mengenakan celana pendek saat kecil, dan tumbuh besar dengan celana panjang, kemeja Arrow, celana pendek Byford. 

Kita telah mengalami polio, meningitis, flu H1N1, COVID-19.

Kita telah melalui begitu banyak hal, tetapi kita tetap bersyukur atas keajaiban hidup."

"Anda bisa menyebut kami 'para penyintas' —mereka yang lahir di tahun 1950-an, yang menghabiskan masa kecil mereka di era analog dan tumbuh dewasa di era digital."

"Kita adalah generasi yang 'menyaksikan segalanya.'
Generasi ini telah benar-benar beradaptasi dengan dunia."

"Salam untuk kelompok istimewa ini—generasi kita!

Karena kita akan menjadi generasi yang unik."

✨ Kata-kata indah dan tulus yang dikirim oleh seorang teman.

Semoga Anda meluangkan waktu untuk membacanya dan membagikannya dengan teman-teman Anda.
 Kalau kamu simpan untuk nanti—kamu mungkin nggak akan pernah membagikannya!

Selamanya bersama,
Selamanya bersatu,
Selamanya bersaudara,
Selamanya bersahabat.

Tolong teruskan ini ke sepuluh sahabatmu —kalau aku salah satunya, jangan lupa untuk mengirimkannya juga! Kita generasi analog dan digital.

☝💪✌👍👨‍🍳🎖️

Jumat, 05 April 2019

Sekolah Ramah Anak

Sekolah Ramah Anak : Definisi, Tujuan, Indikator, Program, Ruang Lingkup

Dulu, mungkin kita hanya mengenal macam-macam istilah sekolah anak. Mulai dari sekolah kejuruan, sekolah menengah pertama, sekolah menengah atas, dan sebagainya. Kini, terdapat istilah baru yang mungkin masih asing di telinga namun menimbulkan keingintahuan. Apakah itu? Yuk simak ulasan sekolah ramah anak berikut ini.

Apa yang terbayang dalam benak anda ketika mendengar istilah sekolah ramah anak? Sekolah yang bisa membuat anak-anak tersenyum? Sekolah dimana guru dan murid-muridnya selalu tertawa bahagia?

Sebenarnya apa yang anda bayangkan tersebut tidak salah. Sekolah yang ramah untuk anak, akan membuat proses kegiatan belajar mengajar jauh lebih menyenangkan. Dengan demikian, suasana belajar pun lebih kondusif, yang pada akhirnya membuat murid dan guru bisa tersenyum bahagia.

Lalu apa definisi resminya?

Definisi Sekolah Ramah Anak
Sekolah ramah anak nyatanya bukanlah jenis baru dalam jenjang pendidikan pada sekolah formal anak. Sekolah ramah anak, pada tahun 2013 dikenalkan di Indonesia sebagai sebuah konsep pendidikan yang ideal diberikan pada anak usia sekolah.

Pada sekolah ramah anak, pendidikan berpusat pada diri sang anak. Proses belajar mesti didukung oleh keadaan sosial, fisik dan emosional yang positif, sehat juga aman.

Dari segi fisik, anak terjamin kesehatan, keamanan dan kenyamanannya. Tak ada jajanan di sekitar sekolah yang akan membuat anak sakit. Anak terlindungi dari orang asing yang bisa membahayakan keselamatan mereka. Murid-murid juga merasa nyaman dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar di ruang kelas.

Dari sisi sosial, sekolah dibuat kondusif untuk mendukung proses belajar anak. Misalnya dengan membentuk civitas akademika yang berorientasi akademis namun tetap humanis. Guru-guru baik yang selalu menyemangati anak untuk belajar. Hingga ke penjaga sekolah yang peduli dan mampu tersenyum ramah.

Dalam hal emosi, anak-anak belajar karena suka dan cinta dengan pelajaran yang ada. Tidak ada seorang murid pun yang belajar karena takut dimarahi gurunya. Dengan demikian, pelajaran yang didapat di sekolah, akan lebih melekat hingga anak dewasa kelak.

Sekolah yang ramah anak bisa berupa PAUD, sekolah TK, sekolah SD, ataupun sekolah dengan jenjang yang lebih tinggi lagi.

Tujuan Sekolah Ramah Anak
Ada beberapa tujuan dibuatnya sekolah yang ramah bagi anak ini. Hal ini kami rangkum dari website nya Kabupaten/Kota Layak Anak (KLA.id).

Mengantisipasi tindakan kekerasan pada anak, guru, dan seluruh civitas akademika sekolah.
Mencegah anak keracunan jajanan yang tidak sehat, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Termasuk dalam hal ini juga pencegahan penyakit yang disebabkan lingkungan kurang sehat.
Mengurangi potensi kecelakaan, baik yang disebabkan bencana alam, maupun karena kelalaian manusia.
Mencegah anak dari paparan rokok, narkotika, minuman keras, dan zat adiktif lainnya.
Membentuk lingkungan yang harmonis dan kondusif bagi seluruh civitas akademika sekolah.
Membuat sistem pemantauan yang baik, terutama saat anak berada di lingkungan sekolah.
Berperan dalam memudahkan tujuan pendidikan sekolah secara umum.
Membuat lingkungan sekolah yang bersih, hijau, dan nyaman untuk ditempati.
Menjadikan murid-murid betah tinggal dan berkegiatan di sekolah, sehingga mengurangi waktu mereka untuk berkeliaran di luar rumah.
Menanamkan disiplin dan kebiasan baik di sekolah, bahkan terbawa hingga ke rumah.
Kesepuluh tujuan ini, dirumuskan oleh pihak sekolah dalam rencana kerja, serta kurikulum sekolah.

Indikator Sekolah Ramah Anak
indikator sekolah ramah anakAda beberapa indikasi apakah suatu sekolah itu bisa disebut sebagai sekolah ramah anak atau bukan. Dalam tulisan ini, kami membagi indikator tersebut ke dalam 3 aspek: keamanan fisik, lingkungan sosial yang kondusif, terciptanya aspek emosional yang positif. Berikut adalah penjabarannya:

1. Keamanan Fisik
Keamanan fisik seluruh civitas akademika sekolah, menjadi salah 1 indikator utama sebuah sekolah ramah anak. Ini berarti bahwa dalam melakukan aktivitasnya sehari-hari, warga sekolah tidak terancam jiwanya.

Hal ini bisa terwujud jika sekolah memenuhi beberapa persyaratan. Pertama, sekolah harus berada di lingkungan yang terjamin keamanannya. Misalnya jauh dari jalan raya yang ramai dengan kecepatan kendaraan yang tinggi. Jika pun dekat dengan jalan tersebut, harus dipastikan bahwa pagar pembatas lingkungan sekolah, cukup kuat untuk menahan laju kendaraan.

Persyaratan kedua, lingkungan sekolah harus bersih dan bebas dari penyebaran penyakit menular. Misalnya, sekolah harus jauh dari tempat pembuangan sampah akhir (TPA). Got, dan saluran air lainnya harus lancar, sehingga tidak menjadi sarang nyamuk DBD ataupun malaria.

Syarat ketiga, sekolah harus memiliki bangunan yang mampu mengurangi dampak bencana, seperti gempa dan kebakaran. Jika bangunan mudah terbakar, ataupun rapuh ketika terkena gempa bumi, maka berpotensi memakan banyak korban jiwa ketika bencana terjadi.

Syarat keempat, pihak sekolah harus menjamin kesehatan makanan ataupun jajanan yang dikonsumsi anak-anak. Jika sekolah memiliki kantin di dalam, maka seluruh penjual kantin harus ditegaskan kesediannya untuk hanya menjual jajanan sehat & bergizi.

Sedangkan jika banyak pedagang di lingkungan sekitar sekolah, pihak sekolah juga harus melakukan inspeksi rutin. Jika kedapatan ada pedagang yang menjual makanan/minuman tidak sehat, pihak sekolah harus menghimbau murid-murid untuk menjauhi pedagang tersebut.

2. Lingkungan Sosial yang Kondusif
Sekolah yang ramah bagi anak, harus bisa membangun lingkungan sosial yang kondusif, baik di internal sekolah itu sendiri, maupun dengan lingkungan eksternal sekitar.

Di lingkungan internal, seluruh warga sekolah harus mendapatkan pemahaman terkait tujuan, sasaran, dan langkah-langkah yang harus ditempuh guna mewujudkan lingkungan pendidikan yang baik.

Baik guru, administrasi, hingga ke penjaga sekolah, harus memiliki orientasi akademis, namun tetap humanis. Sehingga terbentuk lingkungan harmonis yang mendukung pencapaian akademis.

Di sisi lain, pihak sekolah juga harus aktif bersilaturahim ke masyarakat sekitar. Jika diperlukan, masyarakat tersebut bisa diundang dan dilibatkan dalam berbagai kegiatan sekolah.  Misalnya kegiatan pentas seni, olahraga, pramuka, PMR, dan berbagai kegiatan lainnya.

Ketika pihak sekolah secara terbuka membaur dengan masyarakat, maka warga sekitar sekolah pun akan turut menunjang tujuan akademis yang dicanangkan sekolah. Inilah salah satu indikator suksesnya sekolah ramah anak.

3. Aspek Emosional yang Positif
Indikator yang tak kalah penting adalah ketika sekolah berhasil membangun aspek emosional yang positif, terutama diantara murid-muridnya. Hal ini bisa terlihat dari semangat anak untuk datang ke sekolah, belajar dan berkegiatan disana.

Hal ini bisa diwujudkan ketika guru berhasil mendidik anak untuk mencintai kegiatan sekolah. Anak-anak belajar dan mengerjakan tugas bukan karena takut dihukum, melainkan karena anak-anak suka dengan pelajaran serta tugas-tugasnya.

Kecintaan terhadap pelajaran juga bisa dilihat ketika anak merasa kurang cukup mendapatkan materi di sekolah. Anak-anak yang suka sejarah misalnya, akan mengajak orang tuanya untuk mengunjungi berbagai museum dan meminta dibelikan buku/komik bertemakan sejarah.

Selain belajar, anak-anak juga suka mengikuti berbagai ekstrakurikuler yang ditawarkan pihak sekolah. Anak yang suka olahraga, akan rajin datang ke ekskul sepak bola, bela diri, dan sejenisnya. Anak yang suka berpetualang, akan berusaha mengejar berbagai piagam dari ekskul pramuka. Sedangkan anak yang berjiwa sosial tinggi akan menyukai kegiatan yang diadakan PMR.

Dengan terciptanya aspek emosional yang positif diantara anak-anak, maka mewujudkan tujuan pendidikan di sekolah tersebut akan jauh lebih mudah.

Ruang Lingkup Sekolah yang Ramah bagi Anak
sekolah ramah anakDalam memenuhi aspek-aspek pengembangan diri anak usia sekolah, mulai dari pengenalan identitas dan usaha mewujudkan cita-cita, ada setidaknya 3 lingkungan yang paling berpengaruh dan dirasa penting untuk mengetahui dan menjalani fungsi dengan. Berikut 3 lingkungan tersebut :

1. Rumah
Inilah tempat utama dan awal pembentuk kepribadian dan pendidikan, juga tempat berekspresi dan memperoleh perlindungan. Di rumah inilah seorang anak membangun fondasi dasar, baik secara fisik, kognitif, maupun psikososial.

Ketika orang tua berhasil membangun fondasi yang baik bagi anak-anaknya, maka tugas sekolah akan jauh lebih mudah. Oleh sebab itulah, sekolah ramah anak, diharapkan untuk memberikan pembekalan bagi orang tua murid. Pembekalan ini bisa berupa pelatihan parenting, workshop, ataupun metode lain yang lebih memungkinkan.

2. Sekolah
Fasilitator dalam pengembangan diri, motivator dan penyedia pendidikan lanjutan yang bermanfaat bagi anak. Di sekolah juga, anak akan dikenalkan dengan peran baru dan belajar untuk menemukan kewajiban dan haknya.

Di sekolah, anak juga akan belajar bersosialisasi dengan teman sebaya. Di saat-saat tertentu, anak juga akan praktek bekerjasama dan berkolaborasi membangun suatu karya. Sehingga ketika mereka dewasa, anak-anak akan lebih terampil bekerja bersama-sama rekan-rekannya.

3. Masyarakat
Tempat pengembangan diri lanjutan, dimana anak berinteraksi dengan segala nilai yang telah dipelajarinya. Masyarakat juga membantu memasukan nilai dan norma baru seperti kesopanan, hukum dan kesusilaan.

Di masyarakat inilah, fondasi dasar anak yang dibangun dalam keluarga, dan pendidikan lanjutan yang didapat di sekolah, akan diimplementasikan secara nyata. Dengan mempraktekan nilai-nilai tersebut, anak akan mendapatkan umpan balik (feedback). Dengan umpan balik tersebut, anak pun akan belajar untuk memperbaiki sikap, dan pola kerjanya.

Prinsip Penyelenggaraan Sekolah Anak
1. Sekolah adalah tempat bermain yang mengasyikan juga ‘sehat’ yang mendukung persaingan dan reward. Namun tidak lupa untuk memupuk jiwa kerja sama dalam bermain dan belajar secara berkelompok.

2. Hadir di semua lapisan masyarakat.

3. Mendorong keaktifan dan daya kreatifitas peserta didik dimana guru hanya menjadi fasilitator.

4. Memberikan perlindungan atas berbagai kebutuhan anak. Seperti perlindungan psikologis, perlindungan atas isu-isu perbedaan dan adanya fasilitas penunjang kesehatan.

Itulah sedikit gambaran mengenai sekolah ramah anak. Dengan mengetahui sedikit gambaran ini diharapkan bisa membantu dan mendukung sekolah anak sebagai tempat yang menyenangkan, dan bukan sebaliknya.

Selasa, 07 Juni 2016

Sembilan Jenis Kesalahan Umum Bahasa Indonesia yang Berkembang di Masyarakat

Sembilan Jenis Kesalahan Umum Bahasa Indonesia yang Berkembang di Masyarakat

1.    Kata depan yang dilesapkan
sesuai buku, dibanding perbuatannya, terdiri empat kelompok.
SEHARUSNYA: sesuai denganjika dibandingkan dengan perbuatannya, terdiriatas empat kelompok.

2.    Kata "sedangkan" dan "sehingga" mengawali kalimat, padahal fungsinya adalah kata hubung
Sedangkan perlakuan perendaman benih muda dalam larutan kolkisin kurang efektif.
Sehingga para pengusaha harus berhenti menanamkan modalnya.

3.    Kalimat diawali dengan kata"dengan" dan "untuk" tanpa subjek
Dengan kondisi tersebut dapat menguntungkan pembangunan industri pariwisata.

4.    Frase kerja digunakan tidak pada tempatnya
Membaca tulisan Arief Budiman, kita diajak berpikir untuk memecahkan masalah pembangunan.
Menyusul aksi pembakaran bendera Indonesia, Asosiasi Importir Indonesia mengancam akan memboikot barang impor dari Australia.

5.    Kata kerja transitif diikuti kata depan sebagai penyerta
Setiap orang memahami tentang apa yang terjadi dalam dirinya.
Mereka mempersoalkan tentang peranan agama dalam kehidupan sehari-hari.

6.    Kata "di mana" digunakan tidak untuk bertanya
Ada tiga macam sebabnya:
a.    Pengaruh bahasa Inggris di kalangan penulis yang menguasai bahasa tersebut:
Sedikit sekali jalan di London di mana Anda tidak dapat membeli buku.
b.    Tidak menganal kata sarana dalam bahasa Indonesia:
Dalam buku kuliah di mana buku ajar ini digunakan, mahasiswa diperkenalkan kepada konsep dasar mekanika kuantum.
c.    Malas untuk menguasai kaidah bahasa Indonesia:
Ia mengambil keputusan itu di mana adalah bagi keselamatan keluarganya.

7.    Gabungan "adalah merupakan" sebagai frase kerja, seharusnya salah satu saja
Gunung Himalaya adalah merupakan gunung tertinggi di dunia.

8.    Kata "saling" mendahului kata kerja dengan imbuhan "ber-an" atau "di"
Molekul itu saling berbenturan.
SEHARUSNYA: Molekul itu berbenturan/saling membentur/bentur membentur.

9.    Kalimat menjadi landung oleh penggunaan kata lewah

Peneliti itu melakukan pemanasan terhadap cawan sampel.
SEHARUSNYA: Peneliti itu memanaskan cawan sampel.

Minggu, 31 Januari 2016

7 Ciri Kecerdasan Emosional Tinggi

7 Ciri-ciri Mereka yang Mempunyai Kecerdasan Emosional yang Tinggi

September 14, 2014
Akhir-akhir ini, kita semakin sadar bahwa kecerdasan emosional ini sangat penting bagi tiap individu dalam menunjang kesuksesan dan kebahagiaan mereka, baik di tempat kerja, pergaulan hingga kehidupan keluarga. Memiliki kecerdasan emosional yang tinggi akan membantu anda dalam bersikap praktis ketika di hadapkan pada suatu permasalahan. Untuk itu, kali ini saya akan sharingkan apa saja ciri-ciri mereka yang mempunyai kecerdasan emosional yang tinggi. Harapannya, hal ini akan menjadi referensi kita bersama untuk kehidupan kita yang lebih bermanfaat dan bahagia kedepannya.
1. Fokus pada Hal-hal yang Positif
Mereka yang memiliki kecerdasan emosional tinggi sadar bahwa percuma saja berlarut-larut dengan masalah. Fokus pada masalah tidak akan pernah membawa solusi, sebaliknya bersikap positif dalam menyikapi masalah akan membawa anda pada solusi yang tepat untuk menyelesaikan permasalahan anda.
2. Mereka yang Berpikiran Positif akan Berkumpul dengan Mereka yang Berpikir Positif Pula
Orang-orang dengan kecerdasan emosional tinggi tidak akan menghabiskan banyak waktu dengan berkumpul bersama mereka yang suka mengeluh dan mengumpat. Mendengarkan keluh kesah dari mereka yang suka berpikir negatif hanya akan membawa menghabiskan energi kita pada hal yang percuma. Sebaliknya, berkumpul dengan orang yang memiliki pikiran positif dan penuh semangat akan membuat kita tertular juga. Dan inilah yang pada akhirnya akan meningkatkan kecerdasan emosional anda juga.
3. Orang dengan Kecerdasan Emosional Tinggi selalu Assertive
Assertive adalah sebuah sikap tegas dalam mengemukakan suatu pendapat, tanpa harus melukai perasaan lawan bicaranya. Orang yang assertive sangat tahu betul kapan mereka harus bicara, kapan mereka harus mengemukakan suatu pendapat dan bagaimana cara yang tepat untuk memberikan sebuah solusi tanpa harus menggurui. Dan yang pasti mereka yang memiliki sikap assertive selalu berpikir terlebih dahulu sebelum bicara.
4. Mereka adalah Visioner yang siap Melupakan Kegagalan di Masa Lalu
Orang-orang dengan kecerdasan emosional yang tinggi akan sibuk memikirkan apa yang akan dilakukannya di masa depan dan segera melupakan kegagalan di masa lalu. Baginya kegagalan di masa lalu adalah sebuah pelajaran yang penting diambil untuk mengambil langkah yang lebih mantab di masa yang akan datang.
5. Mereka Tahu Cara Membuat Hidup Lebih Bahagia dan Bermakna
Dimanapun mereka berada, apakah itu di tempat kerja, di rumah ataupun berkumpul dengan teman-teman, orang dengan kecerdasan emosional yang tinggi akan membawa kebahagiaan bagi sesamanya. Terkadang arti bahagia bagi mereka tidak harus sebuah kekayaan. Bersyukur akan nikmat yang didapat hari ini dan membantu orang lain yang membutuhkan pertolongannya akan membuat mereka merasa bahagia dan bermakna.
6. Mereka Tahu Bagaimana Mengeluarkan Energi Mereka secara Bijak
Mereka yang dikaruniai kecerdasan emosional tinggi, tahu bagaimana memanfaatkan energi mereka dengan bijak. Mereka tidak akan menghabiskan waktu untuk hal-hal yang percuma saja. Mereka akan fokus pada tindakan-tindakan yang akan membawa manfaat bagi sesamanya.
7. Terus Belajar dan Berkembang
Mereka yang memiliki kecerdasan emosional tinggi sadar, bahwa apa yang ia ketahui saat ini masih belumlah apa-apa. Baginya, belajar bukanlah 12 tahun wajib belajar dan 4 tahun kuliah. Wajib belajar adalah seumur hidup. Mereka selalu terbuka akan hal-hal baru dan berani mencoba berbagai macam tantangan yang akan membuat mereka berkembang. Kritik dan saran dari orang lain akan dijadikan sebagai referensi baru dalam mengambil langkah dan keputusan di masa yang akan datang.
“It isn’t stress that makes us fall – it;s how we respond to stressful events.” – Wayde Goodall

Hari Besar Nasional dan internasional

BULAN JANUARI
01 ~ Tahun Baru Masehi
01 ~ Hari Perdamaian Dunia
03 ~ Hari Departemen Agama
05 ~ Hari Korps Wanita Angkatan Laut 
05 ~ Hari Ulang Tahun PPP
10 ~ Hari Lingkungan Hidup Indonesia
10 ~ Hari Tritura
10 ~ Hari Ulang Tahun Partai PDI
15 ~ Hari Peristiwa Laut dan Samudera
25 ~ Hari Gizi dan Makanan
25 ~ Hari Kusta Internasional
31 ~ Hari Lahir Nahdlatul Ulama (NU)

BULAN FEBRUARI
02 ~ Hari Lahan Basah Sedunia
05 ~ Peristiwa Kapal Tujuh Provinsi
09 ~ Persatuan Wartawan Indonesia
09 ~ Hari Kavaleri
13 ~ Hari Persatuan Farmasi Indonesia
14 ~ Hari Valentine
14 ~ Pembela Tanah Air (PETA)
19 ~ Hari KOHANUDNAS
20 ~ Hari Pekerja Nasional
21 ~ Hari Bahasa Ibu Internasional
22 ~ Hari Istiqlal
23 ~ Hari Rotary Club
28 ~ Hari Gizi Nasional Indonesia

BULAN MARET
01 ~ Hari Kehakiman Nasional
01 ~ Hari Serangan Umum 1 Maret
06 ~ Hari Perdagangan Satwa Liar
06 ~ Hari Kostrad
08 ~ Hari Wanita Internasional
09 ~ Hari Musik Nasional
10 ~ Hari Persatuan Artis Film Ind
11 ~ Hari Surat Perintah 11 Maret
18 ~ Hari Arsitektur Indonesia
20 ~ Hari Kehutanan Sedunia
21 ~ Hari Sindrom Down
22 ~ Hari Air Internasional
23 ~ Hari Meteorologi Sedunia
24 ~ Peringatan Bandung Lautan Api
24 ~ Hari Tuberkulosis Sedunia
27 ~ Hari Women International Club
29 ~ Hari Filateli Indonesia
30 ~ Hari Film Indonesia

BULAN APRIL
01 ~ Hari Bank Dunia
06 ~ Hari Nelayan Indonesia
07 ~ Hari Kesehatan Sedunia
09 ~ Hari TNI AU
15 ~ Hari Zeni
16 ~ Hari Komando Pasukan Khusus
18 ~ Peringatan Konferensi Asia-Afrika 
19 ~ Hari Pertahanan Sipil (HANSIP)
21 ~ Hari Kartini
22 ~ Hari Bumi/Earth Day/KTT Bumi
23 ~ Hari Buku Sedunia
24 ~ Hari Angkutan Nasional
24 ~ Hari Solidaritas Asia-Afrika
27 ~ Hari Lembaga Pemasyarakatan

BULAN MEI
01 ~ Hari Buruh Sedunia
01 ~ Pembebasan Irian Barat
02 ~ Hari Pendidikan Nasional
03 ~ Hari Surya
05 ~ Hari Lembaga Sosial Desa (LSD)
08 ~ Hari Palang Merah Internasional
10 ~ Hari Lupus Dunia
11 ~ Hari POM – TNI
15 ~ Hari Korps Menwa
17 ~ Hari Buku Nasional
19 ~ Korps Cacat Veteran Indonesia
20 ~ Hari Kebangkitan Nasional
21 ~ Hari Peringatan Reformasi
29 ~ Hari Lanjut Usia Nasional
31 ~ Hari Anti Tembakau Internasional

BULAN JUNI
01 ~ Hari Lahirnya Pancasila
03 ~ Hari Pasar Modal Indonesia
05 ~ Hari Lingkungan Hidup Sedunia
15 ~ Hari Demam berdarah ASEAN
17 ~ Hari Dermaga
21 ~ Hari Krida Pertanian
22 ~ Hari Ulang Tahun Kota Jakarta
24 ~ Hari Bidan Indonesia
26 ~ Hari Anti Narkoba Sedunia
29 ~ Hari KB Nasional

BULAN JULI
01 ~ Hari Bhayangkara
05 ~ Hari Bank Indonesia
09 ~ Hari Peluncuran Satelit Palapa
12 ~ Hari Koperasi Indonesia
15 ~ Hari PT. Askes (Persero)
22 ~ Hari Kejaksaan
23 ~ Komite Nasional Pemuda Ind
23 ~ Hari Anak Nasional
29 ~ Hari Bhakti TNI Angkatan Udara
31 ~ Hari Korps Pelajar Islam (PII)

BULAN AGUSTUS
05 ~ Hari Dharma Wanita Nasional
08 ~ Hari Ulang Tahun ASEAN
10 ~ Hari Veteran Nasional
12 ~ Hari Wanita TNI Angkatan Udara 
12 ~ Hari Remaja Internasional
13 ~ Peringatan Pangkalan Lautan Api
14 ~ Hari Pramuka 
17 ~ Hari Proklamasi Kemerdekaan 
18 ~ Hari Konstitusi Republik Indonesia
19 ~ Hari Departemen Luar Negeri
21 ~ Hari Maritim Nasional
24 ~ Hari Televisi Republik Indonesia 
24 ~ Hari Anak Jakarta Membaca

BULAN SEPTEMBER
01 ~ Hari Polisi Wanita (POLWAN)
03 ~ Hari Palang Merah Indonesia
04 ~ Hari Pelanggan Nasional
08 ~ Hari Aksara Internasional
08 ~ Hari Pamong Praja
09 ~ Hari Olah Raga Nasional
09 ~ Hari Ulang Tahun Partai Demokrat
11 ~ Hari Radio Republik Indonesia
14 ~ Hari Kunjung Perpustakaan
17 ~ Hari Perhubungan Nasional
21 ~ Hari Perdamaian Internasional
24 ~ Hari Agraria Nasional/Hari Tani
26 ~ Hari Statistik
27 ~ Hari Pos Telekomunikasi Telegraf 
28 ~ Hari Kereta Api
29 ~ Hari Sarjana Indonesia
30 ~ Hari Peringatan G30S/PKI

BULAN OKTOBER
01 ~ Hari Kesaktian Pancasila
02 ~ Hari Batik Sedunia
02 ~ Hari Susu Nasional
03 ~ Hari Arsitektur Dunia
05 ~ Hari Tentara Nasional Indonesia
08 ~ Hari Tata Ruang Nasional
09 ~ Hari Surat Menyurat Internasional
10 ~ Hari Kesehatan Jiwa Sedunia
14 ~ Hari Penglihatan Sedunia
15 ~ Hari Hak Asasi Binatang
16 ~ Hari Pangan Sedunia
16 ~ Hari Parlemen Indonesia
17 ~ Hari Pengentasan Kemiskinan
20 ~ Hari Ulang Tahun Golongan Karya
24 ~ Hari Dokter Indonesia
24 ~ Hari Perserikatan Bangsa-Bangsa 
27 ~ Hari Listrik Nasional
27 ~ Hari Penerbangan Nasional
28 ~ Hari Sumpah Pemuda
29 ~ Hari KORPRI
30 ~ Hari Keuangan

BULAN NOVEMBER
03 ~ Hari Kerohanian
10 ~ Hari Ganefo
10 ~ Hari Pahlawan
12 ~ Hari Kesehatan Nasional
14 ~ Hari Brigade Mobil (BRIMOB)
14 ~ Hari Diabetes Sedunia
16 ~ Hari Konferensi Warisan Sedunia
20 ~ Hari Anak Sedunia
21 ~ Hari Pohon
22 ~ Hari Perhubungan Darat
25 ~ Hari Guru/HUT PGRI

BULAN DESEMBER
01 ~ Hari AIDS Sedunia
02 ~ Hari Konvensi Ikan Paus
03 ~ Hari Penyandang Cacat
04 ~ Hari Artileri
09 ~ Hari Armada Republik Indonesia
09 ~ Hari Pemberantasan Korupsi
10 ~ Hari Hak Asasi Manusia
12 ~ Hari Transmigrasi
13 ~ Hari Kesatuan Nasional
15 ~ Hari Cinta Puspa dan Satwa
15 ~ Hari Infantri
19 ~ Hari Bela Negara
19 ~ Hari Trikora
20 ~ Hari Kesetiakawanan Sosial
22 ~ Hari Korps Wanita Angkatan Darat 
22 ~ Hari Sosial
22 ~ Hari Ibu
25 ~ Hari Natal
29 ~ Hari Keanekaragaman Hayati
29 ~ Koperasi Pegawai Perpustakaan

Keterangan :
Hitam : Hari Nasional


Biru    : Hari Internasional 

Jumat, 23 Desember 2011

Sekolah Bakti Mulya 400 Jakarta

KB-TK, SD, SMP, SMA Bakti Mulya 400
Sekolah Umum Bernafaskan Islam
Jl. Gedung Pinang, Pondok Indah, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan
Membuka Pendaftaran Peserta Didik Baru Gelombang II Tahun Pelajaran 2016-2017
Info lebih lanjut kunjungi :
Website : www.baktimulya400.com
Telepon : 0217653627

Panduan Krikulum

Kamus

Musik

Ini ada beberapa musik yang bisa di download :
1. Lagu Sunda
    a. Budak Saha
    b. Hujan Cimata

Selasa, 20 Desember 2011

Lesson Study


Lesson Study untuk Meningkatkan Proses dan Hasil Pembelajaran

Abstrak:
Lesson Study merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan proses dan hasil pembelajaran yang dilaksanakan secara kolaboratif dan berkelanjutan oleh sekelompok guru. Tujuan utama Lesson Study yaitu untuk : (1) memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana siswa belajar dan guru mengajar; (2) memperoleh hasil-hasil tertentu yang bermanfaat bagi para guru lainnya dalam melaksanakan pembelajaran; (3) meningkatkan pembelajaran secara sistematis melalui inkuiri kolaboratif. (4) membangun sebuah pengetahuan pedagogis, dimana seorang guru dapat menimba pengetahuan dari guru lainnya. Manfaat yang yang dapat diambil Lesson Study, diantaranya: (1) guru dapat mendokumentasikan kemajuan kerjanya, (2) guru dapat memperoleh umpan balik dari anggota lainnya, dan (3) guru dapat mempublikasikan dan mendiseminasikan hasil akhir dari Lesson Study. Lesson Study dapat dilakukan melalui dua tipe yaitu berbasis sekolah dan berbasis MGMP. Lesson Study dilakukan berdasarkan tahapan-tahapan secara siklik, yang terdiri dari: (1) perencanaan (plan); (b) pelaksanaan (do); refleksi (check); dan tindak lanjut (act).
Kata Kunci : lesson study, kolaboratif, plan, do, check, act
A. Pendahuluan
Selama pendidikan masih ada, maka selama itu pula masalah-masalah tentang pendidikan akan selalu muncul dan orang pun tak akan henti-hentinya untuk terus membicarakan dan memperdebatkan tentang keberadaannya, mulai dari hal-hal yang bersifat fundamental-filsafiah sampai dengan hal–hal yang sifatnya teknis-operasional. Sebagian besar pembicaraan tentang pendidikan terutama tertuju pada bagaimana upaya untuk menemukan cara yang terbaik guna mencapai pendidikan yang bermutu dalam rangka menciptakan sumber daya manusia yang handal, baik dalam bidang akademis, sosio-personal, maupun vokasional.
Salah satu masalah atau topik pendidikan yang belakangan ini menarik untuk diperbincangkan yaitu tentang Lesson Study, yang muncul sebagai salah satu alternatif guna mengatasi masalah praktik pembelajaran yang selama ini dipandang kurang efektif. Seperti dimaklumi, bahwa sudah sejak lama praktik pembelajaran di Indonesia pada umumnya cenderung dilakukan secara konvensional yaitu melalui teknik komunikasi oral. Praktik pembelajaran konvesional semacam ini lebih cenderung menekankan pada bagaimana guru mengajar (teacher-centered) dari pada bagaimana siswa belajar (student-centered), dan secara keseluruhan hasilnya dapat kita maklumi yang ternyata tidak banyak memberikan kontribusi bagi peningkatan mutu proses dan hasil pembelajaran siswa. Untuk merubah kebiasaan praktik pembelajaran dari pembelajaran konvensional ke pembelajaran yang berpusat kepada siswa memang tidak mudah, terutama di kalangan guru yang tergolong pada kelompok laggard (penolak perubahan/inovasi). Dalam hal ini, Lesson Study tampaknya dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif guna mendorong terjadinya perubahan dalam praktik pembelajaran di Indonesia menuju ke arah yang jauh lebih efektif.
Dalam tulisan ini, akan dipaparkan secara ringkas tentang apa itu Lesson Study dan bagaimana tahapan-tahapan dalam Lesson Study, dengan harapan dapat memberikan pemahaman sekaligus dapat mengilhami kepada para guru (calon guru) dan pihak lain yang terkait untuk dapat mengembangkan Lesson Study lebih lanjut guna kepentingan peningkatan mutu proses dan hasil pembelajaran siswa.
B. Hakikat Lesson Study
Konsep dan praktik Lesson Study pertama kali dikembangkan oleh para guru pendidikan dasar di Jepang, yang dalam bahasa Jepang-nya disebut dengan istilah kenkyuu jugyo. Adalah Makoto Yoshida, orang yang dianggap berjasa besar dalam mengembangkan kenkyuu jugyo di Jepang. Keberhasilan Jepang dalam mengembangkan Lesson Study tampaknya mulai diikuti pula oleh beberapa negara lain, termasuk di Amerika Serikat yang secara gigih dikembangkan dan dipopulerkan oleh Catherine Lewis yang telah melakukan penelitian tentang Lesson Study di Jepang sejak tahun 1993. Sementara di Indonesia pun saat ini mulai gencar disosialisasikan untuk dijadikan sebagai sebuah model dalam rangka meningkatkan proses pembelajaran siswa, bahkan pada beberapa sekolah sudah mulai dipraktikkan. Meski pada awalnya, Lesson Study dikembangkan pada pendidikan dasar, namun saat ini ada kecenderungan untuk diterapkan pula pada pendidikan menengah dan bahkan pendidikan tinggi.
Lesson Study bukanlah suatu strategi atau metode dalam pembelajaran, tetapi merupakan salah satu upaya pembinaan untuk meningkatkan proses pembelajaran yang dilakukan oleh sekelompok guru secara kolaboratif dan berkesinambungan, dalam merencanakan, melaksanakan, mengobservasi dan melaporkan hasil pembelajaran. Lesson Study bukan sebuah proyek sesaat, tetapi merupakan kegiatan terus menerus yang tiada henti dan merupakan sebuah upaya untuk mengaplikasikan prinsip-prinsip dalam Total Quality Management, yakni memperbaiki proses dan hasil pembelajaran siswa secara terus-menerus, berdasarkan data. Lesson Study merupakan kegiatan yang dapat mendorong terbentuknya sebuah komunitas belajar (learning society) yang secara konsisten dan sistematis melakukan perbaikan diri, baik pada tataran individual maupun manajerial. Slamet Mulyana (2007) memberikan rumusan tentang Lesson Study sebagai salah satu model pembinaan profesi pendidik melalui pengkajian pembelajaran secara kolaboratif dan berkelanjutan berlandaskan pada prinsip-psrinsip kolegalitas dan mutual learning untuk membangun komunitas belajar. Sementara itu, Catherine Lewis (2002) menyebutkan bahwa:
“lesson study is a simple idea. If you want to improve instruction, what could be more obvious than collaborating with fellow teachers to plan, observe, and reflect on lessons? While it may be a simple idea, lesson study is a complex process, supported by collaborative goal setting, careful data collection on student learning, and protocols that enable productive discussion of difficult issues”.
Bill Cerbin & Bryan Kopp mengemukakan bahwa Lesson Study memiliki 4 (empat) tujuan utama, yaitu untuk : (1) memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana siswa belajar dan guru mengajar; (2) memperoleh hasil-hasil tertentu yang dapat dimanfaatkan oleh para guru lainnya, di luar peserta Lesson Study; (3) meningkatkan pembelajaran secara sistematis melalui inkuiri kolaboratif. (4) membangun sebuah pengetahuan pedagogis, dimana seorang guru dapat menimba pengetahuan dari guru lainnya.
Dalam tulisannya yang lain, Catherine Lewis (2004) mengemukakan pula tentang ciri-ciri esensial dari Lesson Study, yang diperolehnya berdasarkan hasil observasi terhadap beberapa sekolah di Jepang, yaitu:
  1. Tujuan bersama untuk jangka panjang. Lesson study didahului adanya kesepakatan dari para guru tentang tujuan bersama yang ingin ditingkatkan dalam kurun waktu jangka panjang dengan cakupan tujuan yang lebih luas, misalnya tentang: pengembangan kemampuan akademik siswa, pengembangan kemampuan individual siswa, pemenuhan kebutuhan belajar siswa, pengembangan pembelajaran yang menyenangkan, mengembangkan kerajinan siswa dalam belajar, dan sebagainya.
  2. Materi pelajaran yang penting. Lesson study memfokuskan pada materi atau bahan pelajaran yang dianggap penting dan menjadi titik lemah dalam pembelajaran siswa serta sangat sulit untuk dipelajari siswa.
  3. Studi tentang siswa secara cermat. Fokus yang paling utama dari Lesson Study adalah pengembangan dan pembelajaran yang dilakukan siswa, misalnya, apakah siswa menunjukkan minat dan motivasinya dalam belajar, bagaimana siswa bekerja dalam kelompok kecil, bagaimana siswa melakukan tugas-tugas yang diberikan guru, serta hal-hal lainya yang berkaitan dengan aktivitas, partisipasi, serta kondisi dari setiap siswa dalam mengikuti proses pembelajaran. Dengan demikian, pusat perhatian tidak lagi hanya tertuju pada bagaimana cara guru dalam mengajar sebagaimana lazimnya dalam sebuah supervisi kelas yang dilaksanakan oleh kepala sekolah atau pengawas sekolah.
  4. Observasi pembelajaran secara langsung. Observasi langsung boleh dikatakan merupakan jantungnya Lesson Study. Untuk menilai kegiatan pengembangan dan pembelajaran yang dilaksanakan siswa tidak cukup dilakukan hanya dengan cara melihat dari Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (Lesson Plan) atau hanya melihat dari tayangan video, namun juga harus mengamati proses pembelajaran secara langsung. Dengan melakukan pengamatan langsung, data yang diperoleh tentang proses pembelajaran akan jauh lebih akurat dan utuh, bahkan sampai hal-hal yang detail sekali pun dapat digali. Penggunaan videotape atau rekaman bisa saja digunakan hanya sebatas pelengkap, dan bukan sebagai pengganti.
Berdasarkan wawancara dengan sejumlah guru di Jepang, Caterine Lewis mengemukakan bahwa Lesson Study sangat efektif bagi guru karena telah memberikan keuntungan dan kesempatan kepada para guru untuk dapat: (1) memikirkan secara lebih teliti lagi tentang tujuan, materi tertentu yang akan dibelajarkan kepada siswa, (2) memikirkan secara mendalam tentang tujuan-tujuan pembelajaran untuk kepentingan masa depan siswa, misalnya tentang arti penting sebuah persahabatan, pengembangan perspektif dan cara berfikir siswa, serta kegandrungan siswa terhadap ilmu pengetahuan, (3) mengkaji tentang hal-hal terbaik yang dapat digunakan dalam pembelajaran melalui belajar dari para guru lain (peserta atau partisipan Lesson Study), (4) belajar tentang isi atau materi pelajaran dari guru lain sehingga dapat menambah pengetahuan tentang apa yang harus diberikan kepada siswa, (5) mengembangkan keahlian dalam mengajar, baik pada saat merencanakan pembelajaran maupun selama berlangsungnya kegiatan pembelajaran, (6) membangun kemampuan melalui pembelajaran kolegial, dalam arti para guru bisa saling belajar tentang apa-apa yang dirasakan masih kurang, baik tentang pengetahuan maupun keterampilannya dalam membelajarkan siswa, dan (7) mengembangkan “The Eyes to See Students” (kodomo wo miru me), dalam arti dengan dihadirkannya para pengamat (obeserver), pengamatan tentang perilaku belajar siswa bisa semakin detail dan jelas.
Sementara itu, menurut Lesson Study Project (LSP) beberapa manfaat lain yang bisa diambil dari Lesson Study, diantaranya: (1) guru dapat mendokumentasikan kemajuan kerjanya, (2) guru dapat memperoleh umpan balik dari anggota/komunitas lainnya, dan (3) guru dapat mempublikasikan dan mendiseminasikan hasil akhir dari Lesson Study. Dalam konteks pendidikan di Indonesia, manfaat yang ketiga ini dapat dijadikan sebagai salah satu Karya Tulis Ilmiah Guru, baik untuk kepentingan kenaikan pangkat maupun sertifikasi guru.
Terkait dengan penyelenggaraan Lesson Study, Slamet Mulyana (2007) mengetengahkan tentang dua tipe penyelenggaraan Lesson Study, yaitu Lesson Study berbasis sekolah dan Lesson Study berbasis MGMP. Lesson Study berbasis sekolah dilaksanakan oleh semua guru dari berbagai bidang studi dengan kepala sekolah yang bersangkutan. dengan tujuan agar kualitas proses dan hasil pembelajaran dari semua mata pelajaran di sekolah yang bersangkutan dapat lebih ditingkatkan. Sedangkan Lesson Study berbasis MGMP merupakan pengkajian tentang proses pembelajaran yang dilaksanakan oleh kelompok guru mata pelajaran tertentu, dengan pendalaman kajian tentang proses pembelajaran pada mata pelajaran tertentu, yang dapat dilaksanakan pada tingkat wilayah, kabupaten atau mungkin bisa lebih diperluas lagi.
Dalam hal keanggotaan kelompok, Lesson Study Reseach Group dari Columbia University menyarankan cukup 3-6 orang saja, yang terdiri unsur guru dan kepala sekolah, dan pihak lain yang berkepentingan. Kepala sekolah perlu dilibatkan terutama karena perannya sebagai decision maker di sekolah. Dengan keterlibatannya dalam Lesson Study, diharapkan kepala sekolah dapat mengambil keputusan yang penting dan tepat bagi peningkatan mutu pembelajaran di sekolahnya, khususnya pada mata pelajaran yang dikaji melalui Lesson Study. Selain itu, dapat pula mengundang pihak lain yang dianggap kompeten dan memiliki kepedulian terhadap pembelajaran siswa, seperti pengawas sekolah atau ahli dari perguruan tinggi.
C. Tahapan-Tahapan Lesson Study
Berkenaan dengan tahapan-tahapan dalam Lesson Study ini, dijumpai beberapa pendapat. Menurut Wikipedia (2007) bahwa Lesson Study dilakukan melalui empat tahapan dengan menggunakan konsep Plan-Do-Check-Act (PDCA). Sementara itu, Slamet Mulyana (2007) mengemukakan tiga tahapan dalam Lesson Study, yaitu : (1) Perencanaan (Plan); (2) Pelaksanaan (Do) dan (3) Refleksi (See). Sedangkan Bill Cerbin dan Bryan Kopp dari University of Wisconsin mengetengahkan enam tahapan dalam Lesson Study, yaitu:
  1. Form a Team: membentuk tim sebanyak 3-6 orang yang terdiri guru yang bersangkutan dan pihak-pihak lain yang kompeten serta memilki kepentingan dengan Lesson Study.
  2. Develop Student Learning Goals: anggota tim memdiskusikan apa yang akan dibelajarkan kepada siswa sebagai hasil dari Lesson Study.
  3. Plan the Research Lesson: guru-guru mendesain pembelajaran guna mencapai tujuan belajar dan mengantisipasi bagaimana para siswa akan merespons.
  4. Gather Evidence of Student Learning: salah seorang guru tim melaksanakan pembelajaran, sementara yang lainnya melakukan pengamatan, mengumpulkan bukti-bukti dari pembelajaran siswa.
  5. Analyze Evidence of Learning: tim mendiskusikan hasil dan menilai kemajuan dalam pencapaian tujuan belajar siswa
  6. Repeat the Process: kelompok merevisi pembelajaran, mengulang tahapan-tahapan mulai dari tahapan ke-2 sampai dengan tahapan ke-5 sebagaimana dikemukakan di atas, dan tim melakukan sharing atas temuan-temuan yang ada.
Untuk lebih jelasnya, dengan merujuk pada pemikiran Slamet Mulyana (2007) dan konsep Plan-Do-Check-Act (PDCA), di bawah ini akan diuraikan secara ringkas tentang empat tahapan dalam penyelengggaraan Lesson Study
1. Tahapan Perencanaan (Plan)
Dalam tahap perencanaan, para guru yang tergabung dalam Lesson Study berkolaborasi untuk menyusun RPP yang mencerminkan pembelajaran yang berpusat pada siswa. Perencanaan diawali dengan kegiatan menganalisis kebutuhan dan permasalahan yang dihadapi dalam pembelajaran, seperti tentang: kompetensi dasar, cara membelajarkan siswa, mensiasati kekurangan fasilitas dan sarana belajar, dan sebagainya, sehingga dapat ketahui berbagai kondisi nyata yang akan digunakan untuk kepentingan pembelajaran. Selanjutnya, secara bersama-sama pula dicarikan solusi untuk memecahkan segala permasalahan ditemukan. Kesimpulan dari hasil analisis kebutuhan dan permasalahan menjadi bagian yang harus dipertimbangkan dalam penyusunan RPP, sehingga RPP menjadi sebuah perencanaan yang benar-benar sangat matang, yang didalamnya sanggup mengantisipasi segala kemungkinan yang akan terjadi selama pelaksanaan pembelajaran berlangsung, baik pada tahap awal, tahap inti sampai dengan tahap akhir pembelajaran.
2. Tahapan Pelaksanaan (Do)
Pada tahapan yang kedua, terdapat dua kegiatan utama yaitu: (1) kegiatan pelaksanaan pembelajaran yang dilakukan oleh salah seorang guru yang disepakati atau atas permintaan sendiri untuk mempraktikkan RPP yang telah disusun bersama, dan (2) kegiatan pengamatan atau observasi yang dilakukan oleh anggota atau komunitas Lesson Study yang lainnya (baca: guru, kepala sekolah, atau pengawas sekolah, atau undangan lainnya yang bertindak sebagai pengamat/observer)
Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam tahapan pelaksanaan, diantaranya:
  1. Guru melaksanakan pembelajaran sesuai dengan RPP yang telah disusun bersama.
  2. Siswa diupayakan dapat menjalani proses pembelajaran dalam setting yang wajar dan natural, tidak dalam keadaan under pressure yang disebabkan adanya program Lesson Study.
  3. Selama kegiatan pembelajaran berlangsung, pengamat tidak diperbolehkan mengganggu jalannya kegiatan pembelajaran dan mengganggu konsentrasi guru maupun siswa.
  4. Pengamat melakukan pengamatan secara teliti terhadap interaksi siswa-siswa, siswa-bahan ajar, siswa-guru, siswa-lingkungan lainnya, dengan menggunakan instrumen pengamatan yang telah disiapkan sebelumnya dan disusun bersama-sama.
  5. Pengamat harus dapat belajar dari pembelajaran yang berlangsung dan bukan untuk mengevalusi guru.
  6. Pengamat dapat melakukan perekaman melalui video camera atau photo digital untuk keperluan dokumentasi dan bahan analisis lebih lanjut dan kegiatan perekaman tidak mengganggu jalannya proses pembelajaran.
  7. Pengamat melakukan pencatatan tentang perilaku belajar siswa selama pembelajaran berlangsung, misalnya tentang komentar atau diskusi siswa dan diusahakan dapat mencantumkan nama siswa yang bersangkutan, terjadinya proses konstruksi pemahaman siswa melalui aktivitas belajar siswa. Catatan dibuat berdasarkan pedoman dan urutan pengalaman belajar siswa yang tercantum dalam RPP.
3. Tahapan Refleksi (Check)
Tahapan ketiga merupakan tahapan yang sangat penting karena upaya perbaikan proses pembelajaran selanjutnya akan bergantung dari ketajaman analisis para perserta berdasarkan pengamatan terhadap pelaksanaan pembelajaran yang telah dilaksanakan. Kegiatan refleksi dilakukan dalam bentuk diskusi yang diikuti seluruh peserta Lesson Study yang dipandu oleh kepala sekolah atau peserta lainnya yang ditunjuk. Diskusi dimulai dari penyampaian kesan-kesan guru yang telah mempraktikkan pembelajaran, dengan menyampaikan komentar atau kesan umum maupun kesan khusus atas proses pembelajaran yang dilakukannya, misalnya mengenai kesulitan dan permasalahan yang dirasakan dalam menjalankan RPP yang telah disusun.
Selanjutnya, semua pengamat menyampaikan tanggapan atau saran secara bijak terhadap proses pembelajaran yang telah dilaksanakan (bukan terhadap guru yang bersangkutan). Dalam menyampaikan saran-saranya, pengamat harus didukung oleh bukti-bukti yang diperoleh dari hasil pengamatan, tidak berdasarkan opininya. Berbagai pembicaraan yang berkembang dalam diskusi dapat dijadikan umpan balik bagi seluruh peserta untuk kepentingan perbaikan atau peningkatan proses pembelajaran. Oleh karena itu, sebaiknya seluruh peserta pun memiliki catatan-catatan pembicaraan yang berlangsung dalam diskusi.
4. Tahapan Tindak Lanjut (Act)
Dari hasil refleksi dapat diperoleh sejumlah pengetahuan baru atau keputusan-keputusan penting guna perbaikan dan peningkatan proses pembelajaran, baik pada tataran indiividual, maupun menajerial.
Pada tataran individual, berbagai temuan dan masukan berharga yang disampaikan pada saat diskusi dalam tahapan refleksi (check) tentunya menjadi modal bagi para guru, baik yang bertindak sebagai pengajar maupun observer untuk mengembangkan proses pembelajaran ke arah lebih baik.
Pada tataran manajerial, dengan pelibatan langsung kepala sekolah sebagai peserta Lesson Study, tentunya kepala sekolah akan memperoleh sejumlah masukan yang berharga bagi kepentingan pengembangan manajemen pendidikan di sekolahnya secara keseluruhan. Kalau selama ini kepala sekolah banyak disibukkan dengan hal-hal di luar pendidikan, dengan keterlibatannya secara langsung dalam Lesson Study, maka dia akan lebih dapat memahami apa yang sesungguhnya dialami oleh guru dan siswanya dalam proses pembelajaran, sehingga diharapkan kepala sekolah dapat semakin lebih fokus lagi untuk mewujudkan dirinya sebagai pemimpin pendidikan di sekolah.
D. Kesimpulan
Berdasarkan uraian di atas dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:
  1. Lesson Study merupakan salah satu model pembinaan profesi pendidik melalui pengkajian pembelajaran secara kolaboratif dan berkelanjutan berlandaskan pada prinsip-psrinsip kolegalitas dan mutual learning untuk membangun komunitas belajar.
  2. Tujuan Lesson Study adalah : (1) memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana siswa belajar dan guru mengajar; (2) memperoleh hasil-hasil tertentu yang bermanfaat bagi para guru lainnya dalam melaksanakan pembelajaran; (3) meningkatkan pembelajaran secara sistematis melalui inkuiri kolaboratif. (4) membangun sebuah pengetahuan pedagogis, dimana seorang guru dapat menimba pengetahuan dari guru lainnya.
  3. Ciri-ciri dari Lesson Study yaitu adanya: (a) tujuan bersama untuk jangka panjang; (b) materi pelajaran yang penting; (c) studi tentang siswa secara cermat; dan (d) observasi pembelajaran secara langsung
  4. Lesson study memberikan banyak manfaat bagi para guru, antara lain: (a) guru dapat mendokumentasikan kemajuan kerjanya, (b) guru dapat memperoleh umpan balik dari anggota/komunitas lainnya, dan (c) guru dapat mempublikasikan dan mendiseminasikan hasil akhir dari Lesson Study
  5. Penyelenggaraan Lesson Study dapat dilakukan dalam dua tipe: (a) Lesson Study berbasis sekolah; dan (a) Lesson Study berbasis MGMP.
  6. Lesson Study dilaksanakan berdasarkan tahapan-tahapan secara siklik, meliputi : (a) tahapan perencanaan (plan); (b) pelaksanaan (do); (c) refleksi (check); dan (d) tindak lanjut (act).



Sumber Bacaan:
Bill Cerbin & Bryan Kopp. A Brief Introduction to College Lesson Study. Lesson Study Project. online: http ://www.uwlax.edu/sotl/lsp/index2.htm
Catherine Lewis (2004) Does Lesson Study Have a Future in the United States?. Online: http://www.sowi-online.de/journal/2004-1/lesson_lewis.htm
Lesson Study Research Group online: http://www.tc.edu/lessonstudy/whatislessonstudy.html
Slamet Mulyana. 2007. Lesson Study (Makalah). Kuningan: LPMP-Jawa Barat
Wikipedia.2007. Lesson Study. Online: http://en.wikipedia.org/wiki/Lesson_study